Friday, February 23, 2007
Hearing Aids
Sejak hari Senin lalu, 19 Feb, alat yang aku nanti-nantikan akhirnya jadi. Alat ini adalah My Christmas Wish List. Karena harganya mahal sekali, jadi aku harus menabung dan mencicil pembayarannya. Sepasang alat itu bermerek Oticon yang jenisnya Oticon Pro Power dengan model BTE (Behind The Ear). Sesuai saran beberapa audiologist yang dulu-dulu dan konsultasi dengan teman sekerja aku, Amy, aku akhirnya memilih model BTE. Sebelumnya aku memakai model ITE (In The Ear) alias yang bisa dimasukkan ke dalam telinga tapi masih dapat dilihat dari luar. Model ITE (dibeli 12 tahun yang lalu) dulu kupilih karena gag kelihatan jelas selama gag melihat ke dalam telinga, mengingat banyak orang Indo suka nanya kalo melihat sesuatu yang diluar kebiasaan walaupun belum akrab atau kenal dan aku dulu pemalu serta rada malas menjawab terus.

Karena hearing loss aku termasuk yang tingkat severe, maka banyak audiologist menyarankan model BTE supaya speakernya diluar juga bersama-sama alatnya dan bisa menangkap lebih banyak suara, termasuk suara di belakangku dan suara lain tanpa harus membaca bahasa bibir. Alatnya sedang aku coba dan so far, aku bisa berkomunikasi dalam mobil dengan temanku tanpa harus melihat bibirnya (temanku duduk di depan terus). Juga karena alatnya adalah alat digital, maka alat ini secara otomatis akan menurunkan volume suara yang aku dengar terlalu keras sebelon suara itu mencapai syaraf telingaku. Maklum, buat orang yang terbiasa dengan hearing loss, mendengar suara yang terlalu keras yang disampaikan alat pendengar sampai ke syaraf bisa membuat sakit telinga bagian dalam.

Alat ini juga adalah tipe AI (artifical intelligence) yang bisa menghilangkan background noise alias suara latar belakang yang mengganggu pembicaraan one-in-one di tempat yang berisik sekali seperti public places. Alat ini juga mempunyai 4 program yang bisa disetel, salah satunya yang sudah disetel adalah tele-coil alias disetel khusus buat mendengarkan telephone. Dua program lainnya bakal aku pilih adalah pengurangan more background dan music preference. Let's see how everything going on next week before my 3rd appointment.

Alat ini juga mempunyai anti-occlusion, alias anti dengung. Kalo dengan alat yang lama, begitu ada orang memeluk aku atau ada benda menutupin telingaku, alatku langsung berdengung dan suaranya menyakitkan telingaku. Di alat yang baru, karena ada saluran buat udara masuk dan keluar, maka gag ada occlusion lagi. Masalah occlusion ini juga menjadi masalah besar karena membuat suaraku terdengar lebih keras daripada normal, jadi aku selalu mengira suaraku terlalu keras, jadi aku selalu berbicara pelan, membuat orang di sekitarku terkadang minta aku mengulang apa yang kukatakan. Sama seperti bila kamu menutup kedua telingamu dengan jari telunjuk dan mencoba berbicara, suaramu pasti bergema di dalam telinga.

Ini ada gambar bagaimana alat ini kelihatan dari luar. Kalau orang di Aussie sini cuek-cuek dengan melihat pemandangan alat itu, orang Indo yang disini ternyata masih nanya-nanya juga begitu mereka melihat aku memakai alat ini yang kelihatan jelas meskipun mereka tahu aku adalah pemakai alat pendengar. Fortunately, living independently in Australia made me be more confident to tell them about this new devices. Sifat pemalu aku mulai berkurang selama aku di Aussie dan bisa mendengar lebih jelas membuat aku lebih percaya diri dan bisa membuat aku terus menerus membiasakan memakai alat ini.

Besok aku ke gereja sabtu malam, let's see how this device react with music,,yes, music in the church. It's important to me as I always going to church, it's good if I'm able to listen to my voice clearly when I'm singing together.
 
posted by Lilia at 11:29 pm | Permalink | 3 comments
Sunday, February 11, 2007
Foto2 Kangaroo Valley II
Buat foto2 sebelumnya ada di entry di bawah ini.



Inside the rainwater tank, yang bergelembung2 itu adalah kecebong, anak kodok.

Kangaroo Valley in the morning, a lot of fog around. The cow was stared at me for a long time while I was taking a picture around.


After the fog cleared, rumah di seberang itu adalah tempat farm buat sapi2. They do sell fresh milk in there.

The fireplace. Sayangnya gag sempat makainya karena gag begitu dingin di dalam rumah dan karena kita keluar seharian bermain kano dan berjalan sekeliling toko2 di pusatnya Kangaroo Valley. Posted by Picasa
 
posted by Lilia at 11:27 pm | Permalink | 1 comments
Kangaroo Valley
Kangaroo Valley is situated 2 hours from Sydney. The road between Sydney to Kangaroo Valley is not comfortable since there are lots of curve roads between Berry to Kangaroo Valley. There are 4 very sharp curve roads between Berry and Kangaroo Valley. I went there with friends on Friday night and stay there till Sunday morning. It was my first time to stayover in an Australian village. It's also where I got my first close encounter with a horse and a shortland horse (kuda pony). It's also where I experienced how to paddling a canoe, pushing it when I was in the shallow water. Actually, I was a freak clean person, so when had to get down into the river, I braced myself for the worst. I was worrying about the dirty things underwater. However, the competition to be the front runner during the canoe paddling, make me forgot everything plus I had to get down because my friend's daughter (who I was with during canoe paddling) is a small girl.
Enough with those English.... ('cos one of my blogger friend got EYD in her blog, making me trying to use formal English, hehehe).

Rumah yang aku tinggalin ternyata benar-benar well equipped. Ada portable BBQ burner, a DVD player, a digital top box, a small swimming pool, a large fridge, rainwater tank, a solar heat for hot water, electric oil-heater in every room, CD player dan tabung gas buat BBQ burner. Alat2 pun lengkap. Ada senter, vacuum cleaner, sapu2, banyak bolam cadangan, korek api, lilin, telpon, alat2 buat masak, piring2, alat2 makan, pisau2, 2 sofa, kursi goyang, tempat tidur mattress. Juga, rumahnya bersih dan gag berdebu.

Ini ada beberapa foto, oleh2 dari Kangaroo Valley:

Buah kenari, pertama kali kulihat. Biasa liatnya cuma di majalah Donal Bebek, bersama2 Kiki dan Koko.


A shortland, named Neddy is the black one. A maree, called Molly is the brown-fat horse. Molly is really friendly, just make sure that you come to him slowly and start it by patting softly. Dia bakal arahkan moncongnya ke kamu dan aku biasanya elus2 dulu moncongnya lalu elus2 punggungnya. Gag boleh kagetin kuda dan gag boleh bediri di belakang kuda persis, bisa2 disepak.


Canoeing with Ratna, my friend. I was in the back. Eventhough the river seem clean, I was hurried to avoid a pink bubbles that was floating on the water when I was pushing the canoe with her daughter. There are lots of green mould between the rocks at the far left side of the river, yuck...

This is inside the house. It is a big house, clean and well maintained. This is where the fireplace situated. Posted by Picasa
 
posted by Lilia at 10:54 pm | Permalink | 2 comments
Friday, February 02, 2007
Busy With Books
Mohon maaf yah, aku lagi ada 2 buku yg perlu dituntaskan plus some DVD movies plus ada acara jalan-jalan sama teman-teman pas days off.

Buku disamping kiri ini dipinjamkan ke aku sama temanku yg lagi holiday ke Indo. Ceritanya kan aku curhat sama si K, soal teman-teman sekerja, managers dan masalah sama supervisor aku yang gag rela lepasin aku ke department lain. Padahal kan aku mau berkembang lah. Apa gunanya ikut kelas-kelas dan training kalo gag nyoba kerja di departemen laen? Plus apa gunanya talenta (katanya GM aku lohhh..) aku yang Team Player of the Year kalo gag dipake buat dapetin experience di department laen?

Ceritanya kan aku ngelamar kerja di departemen laen yang emang butuh orang, karena ada orang yang resign. Dipikir-pikir seh gag enaknya tuh ada kerja night shift (if needed) trus ada risk kerja long hours (kata Zsa-Zsa), tapi kalo aku bisa enjoy, why not? Lagian aku dah boring sama kerjaan aku di departemen sekarang ini. Pas apply diterima sama Restaurant Manager dan Conference Supervisor, malah aku mulai dekat ke orang-orang di office.

Si Conference Supervisor malah nawarin aku Tiramisu Cake yang saat itu ada di office pas aku lagi fotokopi, malah dia yg sering nyapa aku duluan drpd supervisor aku yg sekarang ini. Alasan supervisor aku, aku gag boleh pindah karena department dia sibuk terus dan butuh orang, malah kekurangan orang. Katanya aku boleh pindah bulan Maret pas gag sibuk, tapi begitu aku challenge dia buat telpon Manager aku (yg sebelonnya barusan dia telpon bilang aku gag boleh pindah krn masih sibuk) dan bilang aku bisa pindah bulan Maret, supervisor aku malah gag mau lakuin. Jelas-jelas dia mau nahan aku di departemen aku yg sekarang ini.

Padahal dulu pas aku disuru masuk training sama manager aku (sekarang GM aku), aku minta manager aku ajak orang lain juga dari departement yg sama dengan aku buat ikutan training. Aku gag mau kalo cuma aku yg dapat perhatian dari si manager, aku mau ada yang sama-sama maju bersama. Dan yg diajak ikutan yah supervisor aku yang sekarang ini. Gag taonya supervisor aku malah menghambat keinginan aku. Jadi aku benar-benar jengkel habis sama si supervisor ini, abisnya dia gag pernah kasi semangat, tahunya hanya kritik dan guyonan yg sama sekali gag lucu yg aku diemin aja.

Anyway, di bukunya dibilang bagaimana memenangkan orang. Penulisnya adalah seorang pastor, tapi bukunya gag bahas soal agama. Cuma pengalaman dia sebagai pastor dan pengalaman orang-orang lain yang dia kenal yang dia implementasikan ke buku. Dia juga menulis buku tentang Leadership dan berbagai buku lain yang sejenis. Isi bukunya aku baca dan aku setuju beberapa points yang dia tulis. Sisanya nanti aku share di blog deh.
 
posted by Lilia at 9:02 pm | Permalink | 2 comments