Friday, October 19, 2007
Stereotype
Tulisan perjalanan ke France belum selesai, yang bagian Montpellier belum selesai ditulis karena belum sempat edit foto.

Tapi...
Saya mau ngebahas soal stereotype disini, soal stereotype Asian yang kerja di Australia. Sejujurnya, selama gue liat sih ya, kalo kita kerja keras, banyak koq orang Aussie yang menghargai kita dan trust kita. Ga ada masalah buat Asian yang kerja di negara kangguru ini asal kamu benar-benar respect sama kerjaan kamu alias ga datang telat, kerja keras, jujur dan ga pura-pura calling in sick hanya untuk abisin sick leave.

Tapi sebuah pernyataan teman menggugah aku buat ngebahas masalah stereotype ini. Temanku orang Indo yang pernah kuliah disini, sebut saja A. Ketika aku cerita soal aku dapat tiket ke Paris sebelum aku berangkat, dia pertamanya memberi selamat. Tapi, baru dua hari yang lalu, ketika aku cerita soal teman-teman seperjalanan. Dia bilang kalo manager aku tuh kelihatan banget suka sama aku, kalo engga kenapa aku adalah satu-satunya orang Asia yang diikutkan dalam rombongan bule-bule yang termasuk manager aku itu?

Tentu saja aku agak kaget mendengar pernyataan itu. Memang aku satu-satunya Asia, tapi tunggu dulu, bukan itu alasan kuat mengikutsertakan aku dalam acara liburan Paris ini. Alasannya adalah ga semua orang di hotel bisa berlibur dan pergi bersama karena ga semua orang bisa digantiin tugasnya oleh orang lain. Ada manager yang ga pergi karena istrinya barusan punya baby daughter, I knew this. Yang lain ga bisa pergi karena harus gantiin si manager ini ambil cuti. Kalo orang-orang department front office berlibur juga selagi general manager berlibur, kan bisa kacau nantinya, secara lebih dari satu orang yang berkaitan dengan sistim management pada berlibur semua.

Selain itu, aku dipilih karena aku ikut mensukseskan penjualan beer Heineken, promotor liburan ke Paris. Aku yang mendorong-dorong orang hotel buat ganti Light beer yang tidak laku dengan beer lain. Kebetulan saat mereka hendak mengganti merek beer, Heineken lah yang sedang menawarkan competition in sales. Karena banyak beer Heineken yang terjual, hotelku keluar sebagai pemenangnya.

Kenapa banyak orang Indo yang ga percaya diri kalo mereka bisa kerja sama bule dan mencapai apa yang bisa diraih oleh bule juga? Ga ada alasan "suka" untuk bisa mendapatkan tiket ke Paris ini.

Juga kenapa teman-teman lain yang di Indo bilang kalo aku tuh hebat karena bisa pergi berlibur ke Paris bersama bule-bule? Itu bukan sesuatu yang "hebat" ataupun karena ada alasan miring-miring.

Yang menghibur aku adalah ketika salah seorang pekerja di hotel, orang Nepal di department lain yang dulunya pernah bekerja di department aku bersama-sama dengan aku, berkata kepadaku "You deserved it, you work really hard" and he did say the truth.

Kalo orang Nepal bisa berkata jujur begitu, kenapa kita-kita sebagai orang Indo harus memasang stereotype "Lucky Asian" didalam diri kita dan dalam diri teman-teman Indo kita?
 
posted by Lilia at 9:50 pm | Permalink |


3 Comments:


At Sunday, October 21, 2007 8:16:00 pm, Blogger Linx

itu intimidasi namanya. biarin anjing menggonggong kafilah berlalu. kasi liat aja gambar monyet di blog gue yg bisa ngrokok. lah apa hubungannya coba ;p

 

At Monday, October 22, 2007 10:18:00 am, Anonymous Yenny

mungkin si A punya pengalaman buruk masalah rasis kali Li. Bodo amatlah yang penting kita bangga dong, bawa nama Indonesia ke Paris...qiqiqiqi...kayak atlet aja :p

 

At Friday, October 26, 2007 11:10:00 pm, Blogger Zsa Zsa

iya li .. biarin aja orang ngomong ba bi bu. yang penting kita tau kenyataannya seperti apa.